A. SOAL
1. Dalam pengkajian islam seringkali diperlukan adanya THEORETICAL CONSTRUCTION, jelaskan!
2. Tulis dengan singkat tentang pendekatan sejarah dalam kajian studi Islam!
3. Apa saja metode yang dipakai dalam pendekatan antropologi pada kajian studi islam? Apa kelebihan dan kekurangan pendekatan ini?
4. Ada berapa dampak yang mungkin bisa ditimbulkan dari pendekatan psikologis dalam kajian studi islam. Bagaimana solusi masalah tersebut!
5. Banyak faktor yang menyebabkan ilmu-ilmu keislaman selama ini belum banyak berkembang jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Deskripsikan masalah tersebut!
B. JAWABAN
1. Jawaban no satu.
THEORTICAL CONSTRUCTION atau Bangunan teori adalah abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep atau lebih. Bangunan-bangunan teori tersebut antara lain:
a. Teori Ilmu
b. Temuan Substantif Mendasar
c. Hukum Keteraturan: Hukum Keteraturan, Hukum Keteraturan Hidup Manusia, Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi.
d. Konstruk Teori Model Korespondensi
e. Konstruk Teori Model Pragmatis
f. Konstruk Teori Iluminasi
2. Jawaban no dua.
Sebagai sebuah ilmu, sejarah membahas berbagai peristiwa dengan memerhatikan unsur, tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, dan siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dan tentunya pendekatan sejarah dalam studi Islam ini dilakukan melalui berbagai tahapan yang harus dilalui.
Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah tahapan akumulasi data. Dalam tahapan ini, sumber sejarah merupakan salah satu yang menentukan kualitas pendekatan. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam hal sumber sejarah ini adalah akurasi, dan otentisitasnya sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Adapun jenis sumber sejarah itu sendiri antara lain:
a. Sumber tertulis, seperti prasasti, arsip, segala dokumen, kitab-kitab, serat, babad, hikayat, buku, majalah, dan sebagainya. Semuanya dapat dikumpulkan faktanya melalui telaah teks atau library research.
b. Sumber visual, dan audio visual, yaitu foto, film, video, kaset, laser disk, CD ROM, dan sebagainya. Sumber semacam ini ditela’ah melalui pengamatan.
c. Benda-benda sejarah yang dapat memberikan dan menjadi bukti sejarah.
d. Sumber lisan, yaitu penuturan lisan dari pelaku sejarah dan atau penyaksi adanya peristiwa sejarah. Pengumpulan data terhadap sumber tersebut dapat dilakukan dengan metode wawancara.
Sumber-sumber di atas, dalam proses pengumpulannya perlu dipertimbangkan apakah ia termasuk sumber primer, yaitu sumber langsung asli sebagai jejak-jejak sejarah, ataukah ia termasuk sumber sekunder, ialah sumber tidak langsung yang memberikan informasi adanya peristiwa sejarah.
Sumber sejarah tertulis dapat dicari di banyak tempat, terutama pusat arsip dan perpustakaan-perpustakaan. Kesulitan pencarian sumber biasanya terjadi karena permasalahan sejarah yang diteliti merupakan peristiwa yang sudah terlalu lama, misalnya dalam sejarah Islam sumber-sumber tertulis masa Nabi hingga abad pertengahan sudah sangat langka. Adapun sumber lisan, seyogyanya adalah manusia pelaku/penyaksi sejarah, keberadaannya perlu dicari dan berpacu pada usianya. Penggunaan sumber lisan ini akan lebih kredibel bagi penelitian sejarah kontemporer.
Untuk mengurangi kesulitan di dalam menghadapi berbagai sumber sejarah, dan dalam rangka menghemat waktu serta ketepatan sumber, maka diperlukan seleksi sumber sejarah berdasarkan relevansinya terhadap penulisan yang akan dikerjakan. Bagi sumber-sumber yang relevan (benar-benar mendukung dan berhubungan) dengan penulisan sejarah agama diambil, sedangkan sumber yang tidak relevan lebih baik diabaikan. Sumber-sumber yang benar-benar memiliki nilai relevan itu, kemudian dikaji ulang secara teliti dengan menggunakan metode kritik yang berlaku dalam metode sejarah.
Tahapan yang kedua adalah pemilihan data. Pemilihan data ini dilakukan dengan cara menyeleksi sumber sejarah melalui kritik sejarah. Kritik sejarah ini dilakukan terhadap dua hal, yaitu kritik terhadap sisi eksternal sumber dan kritik terhadap sisi internal sumber.
Kritik eksternal, yaitu kritik terhadap sisi fisik sumber. Apakah bahan yang dipakai itu asli, apakah tulisan tintanya juga asli dan sebagainya. Intinya di sini mempertanyakan keaslian (otentisitas) sumber sejarah.
Kritik internal, yaitu kritik terhadap isi sumber. Apakah isi dari pernyataan sumber itu dapat dipercaya? Caranya dengan membandingkan beberapa sumber yang sama. Apabila isi dari sumber itu sama benar, maka sumber itu dinyatakan dapat dipercaya kebenarannya.
Tahapan yang ketiga adalah tahapan interpretasi data. Tahapan ini merupakan proses pendekatan sejarah yang tidak terpisahkan dari langkah berikutnya, yaitu penulisan sejarah. Yang dimaksud interpretasi dalam hal ini adalah proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah, atau bahkan proses penyusunan fakta-fakta sejarah itu sendiri. Seperti dikemukakan di depan, bahwa fakta sejarah haruslah objektif, tetapi tidaklah berarti peneliti tidak ada peluang untuk menerangkan fakta itu atas dukungan teori yang dimilikinya. Oleh karena itu proses interpretasi sejarah juga dimungkinkan masuk unsur-unsur subjektif peneliti, terutama gaya bahasa dan sistem kategorisasi atau konseptualisasi terhadap fakta-fakta sejarah berdasarkan teori yang dikembangkannya.
Tahapan yang terakhir adalah tahapan penulisan data. Dalam pendekatan sejarah, penulisan sejarah merupakan proses rekonstruksi sejarah. Dalam hal ini kerangka penulisan yang sudah dipersiapkan menjadi patokan, dan pola penulisan dimaksud tergantung kepada penulis, apakah penyusunannya berdasarkan pola yang dikembangkan secara urut waktu atau periodesasi ataukah didasarkan kepada tema-tema unik sesuai peristiwa sejarah. Demikian pula model pemaparan atas fakta-fakta sejarah dapat ditempuh secara deduktif maupun induktif. Suatu hal yang penting dicatat, bahwa penulisan sejarah biasa dikembangkan secara kualitatif, sehingga antara deskripsi fakta dan analisisnya merupakan satu kesatuan di dalam pemaparan sejarah. Dalam hal ini, Badri Yatim dalam salah satu kesimpulannya tentang penulisan sejarah, mengatakan bahwa pengerjaan ilmu sejarah tidak saja menuntut kemampuan teknis dan wawasan teori, tetapi juga integritas yang tinggi. Karena itu, dalam melakukan studi sejarah, sejarawan sering harus meninjau kecenderungan pribadinya.
3. Jawaban no tiga.
a. Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari Islam menonjolkon aspek sejarah, metode ini member-kan kemungkinan adanya studi komparasi tentang berbagai penemuan dan pengembang-an ilmu pengetahuan dalam Islam, sehingga umat Islam memiliki pengetahuan yang relevan hubungan sebab akibat dan kesatuan integral. Lebih lanjut umat Islam mampu menelaah kejadian sejarah dan mengetahui lahirnya tiap komponen, bagian subsistem dan supra sistem ajaran Islam. Wilayah metode ini lebih terarah pada aspek kognitif.
Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris yakni suatu metode pemaham-an terhadap suatu pemahaman terhadap suatu kepercayaan sejarah atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan dimana kepercayaan sejarah atau kejadian itu muncul. Metode ini menghendaki adanya pengetahuan, pemahaman dan penguraian ajaran-ajaran Islam dari sumber dasarnya yakni al-Qur’an dan as-Sunnah serta latar belakang masyarakat, sejarah, budaya di samping sirah nabi SAW dengan segala alam pikirannya.
b. Metode Sinkronis-Analitis
Suatu metode mempelajari Islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelek umat Islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi aplikatif praktis, tetapi juga meng-utamakan telaah teoritis. Metode diakronis dan metode sinkronis analitis menggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
1) Islam adalah agama wahyu Illahi yang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya cipta dan rasa manusia.
2) Islam adalah agama yang sempurna dan di atas segala-galanya (QS. Al-Maidah: 3)
3) Islam merupakan supra sistem yang mempunyai beberapa sistem dan subsistem serta komponen dengan bagian-bagiannya dan secara keseluruhan merupakan suatu struktur yang unik.
4) Wajib bagi umat Islam untuk mengajak pada yang ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali Imron: 104)
5) Wajib bagi umat Islam untuk mengajak orang lain ke jalan Allah dengn jalan yang hikmah dan penuh kebijaksanaan (QS. An-nahl: 125).
c. Metode Problem Solving (hill al musykilat).
Metode mempelajari Islam untuk mengajak pemeluknya untuk berlatih menghadapi berbagai masalah dari suatu cabang ilmu pengetahuan dengan solusinya.
d. Metode Empiris (Tajribiyyah)
Suatu metode mempelajari Islam yang memungkinkan umat Islam mempelajari ajarannya melalui prosed realisasi, aktualisasi, dan internalisasi norma-norma dan kaidah Islam dengan suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial, kemudian secara deskriptif proses interaktif dapat dirumuskan dan suatu sistem norma baru.
Metode problem solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
1) Norma (ketentuan) kebajikan dan kemungkaran selalu ada dan diterangkan dalam Islam (QS. Ali Imron: 104)
2) Ajaran Islam merupakan jalan untuk menuju ridho Allah (QS. Al-fath: 29)
3) Ajaran Islam merupakan risalah atau pedoman hidup di dunia-akhirat (Asy-Syura: 13).
4) Ajaran Islam sebagai ilmu pengetahuan (QS. Al-baqoroh: 120, at-Taubah: 122)
5) Pemahaman ajaran Islam bersifat empiris-intuitif (QS. Fushilat: 53)
6) Metode Dedukti – Suatu metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah secara logis dan filosofis dan selanjutnya kaidah-kaidah itu diaplikasikan untuk menentukan masalah yang dihadapi.
7) Metode Induktif (al-Marhal al-Istiqariyyah) – Suatu metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah hukum untuk diterapkan kepada masalah-masalah furu’ yang disesuaikan dengan mazhabnya terlebih dahulu. Prosedur pelaksanaan metode induktif dapat dilakukan dengan empat tahap yaitu:
a) Adanya penjelasan dan penguaraian serta menampilkan topik yang umum.
b) Menampilkan pokok-pokok pikiran dengan cara menghubungkan hubungan masalah tertentu, sehingga dapat mengikat bahasan untuk menghindari masuknya bahasan yang tidak relevan.
c) Identifikasi masalah dengan mensistematisasi unsur-unsurnya dan
d) Implikasi formulasi yang baru tersebut.
Adapun Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Antropologi Dalam Studi Islam dalam setiap metode atau pendekatan dalam penelitian dan pengkajian terhadap suatu masalah pasti terdapat kelebihan dan kekurangan dari pendekatan yang digunakan. Begitu pula pada pendekatan Antropologi dalam studi Islam, kita akan menemukan kelebihan dan kekurangannya.
Dalam pengkajian makalah ini kami dapat mengemukakan beberapa kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi Islam, sebagai berikut :
a. Kelebihan
Kelebihan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi Islam yaitu :
1) Pendekatan antropologi bercorak deskriptif dan denganmelakukan pengamatan langsung, sehingga peneliti mengetahui dengan sebenarnya praktik keberagamaan (local practices) praktik yang nyata di suatu tempat.
Antropologiselalu mencariketerkaitan atau hubungan antara berbagai domain kehidupan secara lebih utuh dan melakukan perbandingan dari berbagai tradisi.
Dengan antropologi kita dapat meneliti asal-usul agama, dan dengan itu kita dapat mengerti cara berpikir manusia yang menganut agama tersebut pada zamannya,sehingga dengan melakukan kajian lewat agama kita dapat mengetahui pola berpikir manusia pada zaman dahulu, karena pasti ada keterkaitan antara agama dan manusia.
Antropologi lebihterfokus pada symbol-simbol dan unsur-unsur dalam agama seperti sholat, puasa, haji, golongan agama, pemuka agama dan sebagainya, karena hal itu dapat mempengaruhi manusia.
b. Kekurangan
Kekurangan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi Islam yaitu :
1) Antropologi tidak membahas fungsi agama bagi manusia, tetapi membahas isi dan unsur-unsur pembentuk dalam agama itu berkaitan dengan manusia dan kebudayaan sehingga akan sulit mengamati terjadinya sekularisasi.
b) Dalam kehidupan terjadinya pembauran antara budaya dan agama, sehingga dalam praktiknya jika kita tidak cermat mengamatinya, maka tidak dapat dibedakan antara agama dan budaya.
4. Jawaban no empat
Teori-teori psikologi kontemporer banyak dikembangkan di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Kristen. Teori-teori ini lah yang kemudian diadopsi ke dalam psikologi agama yang digunakan dalam mengkaji studi Islam.
Dampak dari Teori-teori psikologi kontemporer yang berasal dari Barat diantaranya dapat mengurangi pengertian Islam dari keseluruhan pengertiannya, hingga menampilkan Islam secara parsial atau tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan metodologinya di Barat, psikologi agama yang berkembang sekarang, tidak mengambil sumber dari Alquran atau sumber-sumber pengetahuan lain yang khusus diakui oleh Islam. Karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada jiwa.
Sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.
Oleh karena itu perlu Solusi yang baik untuk menanggulangi dampak di atas diantaranya dengan dirumuskannya teori-teori yang lebih utuh, sesuai dengan epitemologi dan metodologi ilmu pengatahuan dalam Islam. Perumusan ini tidak melarang adopsi teori-teori yang telah ada dalam psikologi agama konvensional.
5. Jawaban no lima.
Azyumardi Azra (2005), seorang pemikir dan pemerhati Islam, mengatakan dunia Islam sekarang secara keilmuan relatif tertinggal. Jumlah lembaga penelitian ilmu, ilmuwan, dan karya keilmuan dalam dunia Islam, menurutnya, berada di bawah rata-rata. Berbeda dengan negara-negara berideologi sekuler, yang nota bene tidak mengenal Islam, jauh lebih maju. Penguasaan ilmu dan aplikasinya tentu tidak semata-mata disebabkan oleh faktor agama.
Teknosains mutakhir telah menyingkap batas-batas dunia dan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang dalam arti tertentu bertentangan dengan ajaran agama. Teori evolusi mendapat tentangan masyarakat agamis karena telah menjelaskan proses terbentuknya kehidupan secara materialistik. Demikian pula teori-teori kosmologi telah menyingkap dunia sampai batas-batas tak terbayangkan. Ilmu pada dasarnya adalah cara pandang materialistik tentang alam. Percaya kepada yang gaib merupakan pilar agama Islam yang berdiri secara diametral dengan ideologi saintisme. Secara fondasional, ilmu memahami materialitas sebagai realitas ultima ditentukan secara instrumental sampai tingkat subatomik. Yang gaib atau non-material bukanlah kebenaran. Akibatnya, perkembangan ilmu telah mencuatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Tuhan. Dengan argumen ini dapat diproposisikan bagaimana agama pada dasarnya bersifat ambivalen terhadap perkembangan ilmu.
Selain agama, kita dapati adanya ambivalensi pada budaya (atau lebih spesifik nilai-nilai budaya). Teknologi selalu menuntut kebaruan sehingga diasumsikan bertentangan dengan nilai-nilai budaya yang dalam banyak hal tak ingin berubah. Meski demikian, ia dapat berpengaruh secara signifikan sebagai sesuatu yang menyebabkan kemajuan. Jepang menjadi contoh negara yang memegang erat tradisi tapi pada saat yang sama unggul teknologinya. Kebiasan bekerja (keuletan) dan “kerja sama” dalam berinovasi menjadi etos pemicu yang sering dipahami berasal dari nilai-nilai budayanya. Namun tak sedikit budaya menghambat dan bahkan menolak hidup dengan teknologi. Kasus Indonesia menarik bila dilihat berdasarkan faktor nilai-nilai budaya. Karena ada banyak budaya yang melatari negara kesatuan Republik Indonesia.
Gagasan tentang teknologi inheren dengan budaya dapat dijadikan argumen berkenaan dengan hal ini. Setiap budaya memiliki kekhasan dalam membuat dan menggunakan teknologi. Don Ihde, seorang filsuf pascafenomenologi, mengistilahkannya dengan multistabilitas teknologi-budaya (1990). Multistabilitas adalah khas dalam pascafenomenologi Ihde—dibedakan dengan teori variasi dalam fenomenologi sebelumnya. Dengan multistabilitas dijelaskan bahwa persepsi manusia terstruktur seturut dengan pengalaman, bersifat kultural, sehingga terdapat aneka ragam bentuk persepsi (polymorphy of perception). Tidak seperti teori variasi dimana dalam posisi perseptual yang sama (dalam konteks keberlainan) dipahami adanya realitas yang sama. Dengan multistabilitas, meski kita melihat realitas dalam posisi perseptual yang sama, seperti misal teknologi, pemahaman terhadapnya dapat berbeda-beda.
Proses adaptasi terhadap lingkungan menjadi pertimbangan tersendiri bagaimana teknologi dalam suatu budaya kemudian berkembang. Kompleksitas sistem sosial, ekonomi dan politik menjadi pemicu berkembangnya suatu tatanan bersifat teknologis. Adaptasi berkenaan dengan penerimaan kebaruan dalam hal ini mengandaikan suatu proses bersifat transaksional. Teknologi menjadi niscaya apabila lingkungan mengondisikan kita untuk menggunakannnya. Ada proses tertentu yang membuat inovasi teknologis kemudian relevan digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. Pemikiran ini dapat dibandingkan dengan filsafat multistabilitas Ihde yang selalu mengandaikan keunikan sehingga kita tidak bisa menerima dan menggunakan teknologi. Padahal apabila lingkungan mengondisikan untuk berkembang atau beradaptasi, masalah multistabilitas (persepsi) dalam kaitannya dengan transfer dan penciptaan teknologi dapat diatasi.
Selain agama dan budaya, kolonialisme juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan ilmu di India, misalnya, diteorikan terkait dengan kesuksesan kolonialisme (Ihde, 1990). Kolonialisme, alih-alih menjadi penghambat, malah menjadi faktor menentukan. Peninggalan kolonialisme, terutama Belanda, di Indonesia dalam wujud teknologi infrastruktur seperti jalan, jembatan dan bendungan. Selain itu teknologi dihasilkan dari sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan (karet, kelapa sawit, timah). Sumber daya alam tersebut merupakan bahan mentah yang kemudian menjadi bahan baku dari teknologi. Pohon karet menghasilkan karet sebagai bahan mentah agar dapat diolah untuk membuat ban. Ban menjadi bahan baku teknologi transportasi seperti mobil dan motor.
Selain infrastruktur teknologi, peran kolonialisme di Indonesia menjadi nyata dalam pendidikan ilmu sosial dan politik. Terbentuknya negara Republik Indonesia tak lepas dari jasa para tokoh pendiri yang mendapat pendidikan Belanda. Jadi selain teknologi, juga perlu dilihat kontribusinya dalam ilmu sosial dan politik. Persepsi publik terhadap kolonialisme selalu bersifat negatif dengan asumsi telah menjajah secara ekonomi dan politik sehingga kita kesulitan untuk mengembangkan diri. Namun seperti telah dijelaskan, kolonialisme pada masanya telah membuka mata dan menjadi penghubung untuk melihat dunia modern.
Terlepas dari ambivalensi faktor-faktor seperti tersebut di atas kita tetap perlu memberdayakan pendidikan ilmu sebagai infrastruktur teknologi. Peran serta negara sangat menentukan dalam konteks ini. Pengadaan instrumen ilmu di sekolah-sekolah, misalnya, menjadi relevan sebagai sebuah langkah untuk memperkenalkan dunia teknologis yang kini semakin berjarak dengan kenyataan. Selain itu, penting juga sebagai negara kepulauan memikirkan teknologi mana yang tepat dan sesuai dengan cara berpikir dan karakter kebudayaan di Indonesia. Karena tidak semua teknologi baik pada dirinya. Strategi seperti ini bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi ketertinggalan. Kita tentunya tak ingin menerima begitu saja teknologi yang tidak dimengerti esensi tekniknya sehingga membuat kita menjadi terasing dan kehilangan identitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar