Selasa, 23 November 2021

Pengertian, Macam dan Cara Mengetahui Munasabah Al-Qur'an


Pengertian Munasabah
Munasabah  secara bahasa berasal dari kata اَسَبَ-يُنَاسِبُ-مُنَاسَبَةً yang berarti dekat, serupa, dan rapat. الْمُنَاسَبَة sama artinya dengan المُقَارَبَة yakni mendekatkannya dan menyesuaikannya. Annasib  juga berarti  ar-rabith , yakni, pertalian, hubungan.
Secara istilah,  munasabah  berarti hubungan atau keterkaitan dan keserasian antara ayat-ayat Al-Qur'an. Ibnu Arabi sebagaimana dikutip oleh imam As-Sayuti, mendefiisikan munasabah itu untuk menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an antara sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga terlihat suatu ungkapan yang cepat dan sistematis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munasabah adalah suatu ilmu yang membahas tentang keterkaitan atau keserasian ayat-ayat Al-Qur'an antar satu dengan yang lain.
  • Menurut az-zarkasyi:munasabah adalah suatu hal yang dapat dijangkau. Tatkala dihadapkan pada akal, pasti akal itu akan menerimannya.
  • Menurut Manna'al-Qaththan: ”munasabah adalah keterkaitan antara beberapa ungkapan dalam satu ayat atau antarayat pada beberapa ayat, antar surat (di dalam al-qur'an).
  • Menurut al-Biqa'i: munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik urutan atau urutan bagian-bagian Al-qur'an, baik ayat dengan ayat atau surat dengan surat
 Cara Mengetahui Munasabah
  1. Harus memperhatikan tujuan suatu pembahasan suatu surat yang menjadi tujuan pencarian.
  2. Memperhatikan penjelasan ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
  3. Berdasarkan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
  4. Dalam kesimpulannya, memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasannya dengan benar dan tidak berlebihan.
Macam Macam Munasabah
Ditinjau dari sifatnya, munasabah terbagi menjadi dua yaitu:  Zhahir Irtibath  (penyesuaian yang nyata) dan  Khafy Irtibath  (persesuaian yang tidak nyata)
Zhahir Irtibath  : Munasabah yang terjadi karena bagian al-Qur'an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat karena kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lain.
Khafy Irtibath  : Munasabah yang terjadi karena antara bagian-bagian al-Qur'an tidak ada penyesuaian, sehingga tidak tampak adanya hubungan antara keduanya, misalnya hubungan antar ayat 189 dan ayat 190 surat Al-Baqarah:
1
اتِلُوْا لِ اللهِ الَّذِيْنَ اتِلُوْنَكُمْ لاَ ا اللهَ لاَ الْمُعْتَدِيْنَ 190
Mereka bertanya tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan, kebajikan rumah-rumah di belakangnya akan tetapi kebajikan itu adalah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (189)
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (190).
Ayat 189 di atas bulan sabit (hilal), tanggal untuk tanda waktu dan jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 menjelaskan perintah menyerang orang-orang yang menyerang umat islam. Padahal kalaulah dicermati dapat diketahui munasabahnya, yaitu pada waktu haji umat Islam tidak berbahaya. ditayangkan ketika diserang musuh, maka dalam kondisi demikian bolehlah bahkan perlu melakukan balasan.
Adapun munasabah ditinjau dari segi materinya, terbagi menjadi dua bagian yaitu: munasabah (hubungan) antar ayat dengan ayat dan munasabah (hubungan) antar surat dengan surat.
Dua pokok hubungan itu menguraikan sebagai berikut:
Hubungan ayat dengan ayat meliputi:
Hubungan Kalimat dengan Kalimat dalam Ayat.
Hubungan antara ayat dengan ayat itu tidak selalu ada pada semua ayat Al-Qur'an. Ayat yang satu dengan ayat yang lain muncul secara jelas menunjukkan hubungan kalimat satu dengan yang lainnya. Hubungan itu memberikan satu sama lain tentang maksud keseluruhan ayat.
Namun ada juga hubungan yang tidak jelas. komposisi makna suatu ayat menjadi kabur karena kaitan kalimat satu kalimat lain tidak dipahamkan secara utuh.
Munasabah ayat dengan ayat dalam setiap surat menambah keyakinan para mufasir bahwa antara suatu ayat dengan ayat lain memang erat. Oleh karena itu, hubungan tersebut juga mendukung keyakinan tentang adanya kaitan ayat dengan sebab turunnya.
Hubungan ANTARA ayat DENGAN ayat Al-Qur'an terbagi hearts doa macam,  Pertama , Hubungan Yang Sudah Jelas ANTARA kalimat terdahulu DENGAN kalimat kemudian, ATAU Akhir kalimat DENGAN Awal kalimat berikutnya, ATAU masalah Yang terdahulu DENGAN masalah Yang dibahah kemudian.
ubungan yang belum jelas antara ayat dengan ayat atau kalimat dengan kalimat.
Hal tersebut terbagi menjadi dua bentuk, yaitu:
hubungan yang ditandai dengan huruf 'athaf
Munasabah dengan menggunakan waw 'athaf ini biasanya menghubungkan dua hal yang berlawanan, seperti dan keluar, turun dan naik, langit dan bumi, rahmat dan azab dan lain sebagainya.
Seperti yang terlihat dalam Surah Saba'ayat 2:
لَمُ ا لِجُ الْأَرْضِ ا ا ا لُ السَّمَاءِ ا ا الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرُ
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.
Ungkapan ا لِجُ الْأَرْضِ ا seolah-olah tidak berhubungan dengan ungkapan
ا لُ السَّمَاءِ ا ا sebab yang pertama berbicara tentang sesuatu yang masuk
dan keluar dari bumi sedangkan yang terakhir berbicara tentang sesuatu yang turun dari langit. Akan tetapi, kedua ungkapan itu masih berhubungan dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Sebab fokus pembicaraannya masalah ilmu tuhan. Dia mengetahui apa saja yang terjadi di langit dan di bumi, kedua ungkapan itu membicarakan topik yang sama yaitu ilmu Allah.
Contoh yang lain, yaitu terdapat pada surah Al-Ghasyiyah, ayat 17-20
لَا لَى الْإِبِلِ لِقَتْ لَى السَّمَاءِ لَى الْجِبَالِ لَى الْأَرْضِ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana cara dibuat. Dan langit, bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan. Dan bumi, bagaimana dihampark .
Jika diperhatikan, ayat-ayat tersebut sepertinya tidak terkait dengan yang lain, padahal hakekatnya saling berkaitan erat. Penyebutan dan penggunaan kata unta, langit, gunung, dan bumi pada ayat-ayat tersebut berkaitan erat dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan lawan bicara yang tinggal di padang pasir, di mana kehidupan mereka sangat tergantung pada peternakan (unta), namun keadaan tersebut tak kan bisa berlangsung kecuali dengan adanya udara yang diturunkan dari langit untuk menumbuhkan rumput-rumput di mana mereka mengembala, dan mereka memerlukan gunung-gunung dan bukit-bukit untuk berlindung dan berteduh, serta mencari rerumputan dan udara dengan cara berpindah-pindah di atas hamparan bumi luas.
Hubungan yang tidak memakai huruf 'athaf
Munasabah yang tidak memakai huruf 'athaf sandarannya adalah  qorinah ma'nawiyahsehingga membutuhkan penyokong sebagai bukti keterkaitan ayat-ayat, berupa pertalian secara maknawai. Dalam hal ini terdapat beberapa bentuk yaitu:
  1. At-Tanzhir (التنظير), yaitu hubungan yang mencerminkan perbandingan,atau membandingkan dua hal yang sebanding.
Misalnya ayat 4 dan 5 surat Al-anfal:
لَئِكَ هُمُ ا لَهُمْ اتٌ (٤)كَمَا الْمُؤْمِنُونَ ا الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ (٥ ))
Huruf al-kaf (كَ) pada ayat lima berfungsi sebagai pengingat dan sifat bagi fi'il yang tersembunyi (مضمر ل ).Hubungan itu tampak dari jiwa itu. Maksud ayat itu lakukan, Allah memerintahkan untuk mengerjakan urusan harta rampasan, seperti yang kalian lakukan pada perang badar meskipun kaummu benci cara demikian. Allah SWT menurunkan ayat ini agar kaum Nabi Muhammad SAW mengingat nikmat yang telah diberikan Allah dengan diutusnya Rasul dari kalangan mereka (surat Al-Baqarah(2):151) : ا لْنَا رَسُولا , sebagai mana juga kaummu langitmu (Rasul) ketika engkau mengajak mereka keluar dari rumah untuk berjihad. Hubungan ini terjadi dengan ayat yang jauh sebelumnya.
  1. Al-Istithrad (الإسطراد), artinya lirik lagu lain.
Misalnya, pada surat Al-A'raf ayat 26:
اَ لْنَا لَيْكُمْ لِبَاسًا ارِيْ اَتِكُم ا لِباَسُ التَّقْوَى لِكَ لِكَ ات اللهِ لَعَلَّهُمْ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
Pada ayat tersebut membahas tentang pakaian takwa lebih baik. Allah menyebutkan pakaian itu untuk menginagaatkan manusia bahwa penutup aurat itu lebih baik. Pakaian bekerja sebagai alat untuk memperbagus apa yang Allah ciptakan. Pakaian merupakan penutup aurat dan kebejatan karena membuka aurat adalah hal yang jelek dan bejat. Sedangkan penutup aurat adalah pintu takwa.
  1. Al-Mudhodah (المضادة) artinya berlawanan, misalnya:
الَّذِيْنَ ا اءٌ لَيْهِمْ لَمْ لاَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan percaya.
Ayat ini menjelaskan watak orang kafir yang pembangkang, keras kepala tidak percaya kepada kitab-kitab Allah. Sedangkan pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan watak orang mukmin sangat berlawanan dengan watak orang kafir. Watak orang-orang mukmin adalah memiliki kepercayaan yang kuat. Dia tidak percaya adanya yang ghaib, melaksanakan shalat, memiliki sifat kebersamaan yaitu tidak senang jika melihat saudaranya kesulitan, baik dalam bidang materi maupun yang lainnya, diambilkan sebagian dari apa yang dimiliki dan diinfakkan kepada yang memerlukan, dan percaya akan adanya kitab-kitab Allah sebelum Al-Qur'an, apalagi Al-Qur'an. Mukmin yakin adanya (kehidupan) akhirat.
Ayat tersebut berbunyi:
الَّذِيْنَ الْغَيْبِ الصَّلَاةَ ا اهُمْ (3)
الَّذِيْنَ ا لَ لَيْكَ ا لِ لِك الآخِرَة (4)
(yaitu) mereka yang percaya kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
dan mereka yang percaya kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Hubungan Ayat dengan Ayat dalam Satu Surat
Munasabah dalam bentuk ini secara jelas dapat dilihat dalam pendek surah-surah. Misalnya surah Al-Ikhlas yang berbunyi:
لْ اللهُ (1) اللهُ الصَّمَدُ(2) لَمْ لِدْ لَمْ يُوْلَد (3)وَلَمْ لَهُ ا (4)
Masing-masing ayat dalam surat tersebut saling menguatkan, tema pokoknya, yaitu tentang keesaan tuhan.
Contoh lain dari model ini dapat dilihat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 dan ayat 256 yang berbunyi:
الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السماوات وما في الأرض من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء وسع كرسيه السماوات والأرض ولا يؤوده حفظهما وهو العلي العظيم (255)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak ada dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang mengamati-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa menjaga keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
 Ayat berikutnya berbunyi:
لاَ اهَ الدِّيْنِ الرُّشْدِ اْلغَي………..
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sebenarnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…..
 Dengan disebutkannya keesaan Allah secara sempurna (dalam ayat 255), maka selanjutnya dalam ayat 156 ditegaskan bahwa tidak perlu adanya paksaan dalam memeluk agama untuk memepercayai adanya Allah.
Hubungan Penutup ( اصلة-فواصل ) Ayat dengan Isi Kandungan Ayat
 Munasabah ini dapat bertujuan sebagai:
Tamkin
Tamkin artinya memperkokoh atau mempertegas pertanyaan. Fashilah  dalam suatu ayat memperkokoh pertanyaan tersebut dalam kandungan ayat itu. Arti  fashilah  di sini berkaitan langsung dengan apa yang dimaksud ayat itu bila tidak ada hubugan ini kandungan ayat itu tidak akan memberi arti yang lengkap boleh jadi mengelirukan.
 Contoh pada surat Al-Ahzab ayat 25:
اللَّهُ الَّذِينَ ا لَمْ الُوا ا اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ انَ اللَّهُ ا ا
Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan  apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.
Dari ayat ini dipahami bahwa menghindarkan orang mukmin dari perang yang disebabkan oleh kelemahan mereka (orang-orang kafir), karena angin kencang atau malaikat yang dikirim Allah. Pemahaman yang kurang lurus ini diluruskan dengan  fhasilah artinya  Allah memisahkan antara dua golongan dalam perang tersebut (dalam perang badar). Kejadian ini menguatkan orang-orang percaya agar mereka merasa bahwa orang-orang mukmin lah yang menang.
  1. Al-Ighal
Al-Ighal adalah tambahan keterangan terhadap kandungan ayat yang sudah ada sebelum fashilah  (akhir ayat Al-Qur'an). tidak ada  fashilah tersebut, maksud ayat sudah lengkap.
Misalnya pada surat Al-Maidah ayat 50
الْجَاهِلِيَّةِ اللَّهِ ا لِقَوْمٍ (50)
kalimat اللَّهِ ا sudah merupakan kalimat sempurna. Akan tetapi, ada persesuaian fashilah-nya dengan kalimat sebelumnya lalu ditambah dengan لِقَوْمٍ . QS. An-Naml: 80
لا الْمَوْتَى لا الصُّمَّ الدُّعَاءَ ا لَّوْا (80)
Makna kalimat ini telah lengkap sampai ke الدُّعَاء, lalu ditambahkan seterusnya
ا لَّوْا untuk menyempurnakan hubungan dengan  Fashilah  ayat sebelumnya.
Hubungan Surat dengan Surat Meliputi :
Hubungan antara nama-nama surat
Misalnya surat al-Mu'minun, dilanjutkan dengan surat an-Nur, lalu percakapan dengan surat al-Furqon. Adapun korelasi nama surat tersebut adalah orang-orang mu'min berada di bawah cahaya ( nur ) yang terhubung dengan mereka, sehingga mereka dapat membedakan yang haq  dan yang  bathil.
hubungan antara asal dan penutupan surat sebelumnya
Misalnya, asal mula surat al-Hadid dan penutupan surat al-waqi'ah memiliki relevansi yang jelas, yakni keserasian dan hubungan dengan tasbih.
dan) اسْم اْلعَظِيْم (الواقعة: 96
للهِ ا السَّمَاوَاتِ الْأَرْضِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْم (الحديد: 1)
hubungan antara awal surat dan akhir surat
Misalnya munasabah antar asal surat Shad dan penutupannya yang menceritakan kisah orang kafir. Demikian pula dengan surat Al-Qashash, dimulai dengan kisah Nabi Musa dan Fir'aun serta kaum kafir, sedang ayat terakhir menggambartkan pernyataan Allah agar umat islam jangan menjadi penolong bagi orang-orang kafir, karena Allah lebih mengerti tentang hidayah.
hubungan antara dua surat dalam materinya
Yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain. Misalnya munasabah antara isi kandungan surat al-baqarah sama-sama menjelaskan tentang aqidah, ibadah, mua'malah, kisah, janji, dan ancaman. Bedanya kandungan tersebut dalam surat al-fatihah dijelaskan secara global sedangkan dalam surat al-baqarah dijelaskan secara perinci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar